Bantul – Minyak jelantah yang selama ini dibuang atau disimpan begitu saja di Dusun Sirat, Bambanglipuro, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai dilirik sebagai bahan yang bisa memberi nilai tambah. Melalui program Eco-Candle, mahasiswa mengajak ibu-ibu Dasawisma (Dawis) RT 02 mengolah limbah minyak goreng menjadi lilin aromaterapi dengan memanfaatkan bunga telang sebagai pewarna alami.
Dusun Sirat sendiri dikenal sebagai kawasan Kampung Bunga Telang. Masyarakat telah mengembangkan bunga telang menjadi sejumlah produk, antara lain teh bunga telang, wedang herbal, sirup, batik ecoprint, dan sampo.
Potensi itu kemudian dipadukan dengan persoalan limbah rumah tangga melalui inovasi Eco-Candle: Pemberdayaan Potensi Lokal Kampung Bunga Telang Bambanglipuro melalui Inovasi Produk Lilin Aromaterapi sebagai Upaya Daur Ulang Limbah Minyak Jelantah.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di Dusun Sirat. Program ini memadukan pengelolaan limbah rumah tangga dengan pengembangan potensi lokal Kampung Bunga Telang.

Program tersebut dilaksanakan oleh kelompok mahasiswa dengan dosen pengampu Sucipto, M.Pd.B.I., Ph.D. Anggota kelompok terdiri atas Putri Fajri Ma’wa, Rachma Selviana, Ratih Fatimah, Rizka Amalia, Rohma Milya Utami, Rostika Anggraeni, Safa Sabrila, Sela Saputri, Septi Indriyani, dan Siti Hanifah.
Persoalan minyak jelantah menjadi salah satu latar belakang kegiatan. Setiap rumah tangga di kawasan tersebut rata-rata menghasilkan lebih dari satu liter minyak jelantah setiap pekan. Sebagian limbah masih dibuang atau disimpan tanpa pengolahan.
Padahal, pembuangan minyak jelantah secara sembarangan berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, limbah tersebut masih dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pengelolaan minyak jelantah. Para peserta dikenalkan pada peluang pemanfaatan limbah minyak goreng agar tidak berakhir sebagai sampah rumah tangga.
Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan dan praktik pembuatan Eco-Candle. Minyak jelantah digunakan sebagai salah satu bahan dasar lilin, sedangkan bunga telang dimanfaatkan sebagai pewarna alami.
Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada ibu-ibu Dawis dalam mengubah limbah rumah tangga menjadi produk baru. Mereka tidak hanya memperoleh keterampilan pengolahan limbah, tetapi juga melihat kemungkinan pengembangan potensi bunga telang ke dalam bentuk produk yang berbeda.
Pemanfaatan bunga telang dalam Eco-Candle menjadi bagian penting dari inovasi tersebut. Selama ini bunga telang di Dusun Sirat telah dikembangkan menjadi berbagai produk pangan, minuman, hingga kerajinan. Melalui Eco-Candle, pemanfaatannya diperluas ke produk lilin aromaterapi.
Sementara itu, penggunaan minyak jelantah menjadi bahan Eco-Candle menawarkan alternatif pengelolaan limbah rumah tangga. Minyak yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat.
Bagi ibu-ibu Dawis RT 02, keterampilan tersebut juga membuka peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif di lingkungan masyarakat. Produk Eco-Candle dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi.
“Terima kasih, kegiatannya sangat bermanfaat bagi kami warga Dusun Sirat. Selain memanfaatkan potensi bunga telang, juga memberikan alternatif solusi ketika di kondisi tertentu seperti saat mati listrik,” ujar salah satu peserta.
Bagi warga, Eco-Candle tidak hanya berkaitan dengan pengolahan limbah. Lilin tersebut juga dapat digunakan sebagai sumber penerangan alternatif ketika terjadi pemadaman listrik.
Bagi mahasiswa, kegiatan Eco-Candle menjadi ruang untuk menerapkan pembelajaran melalui persoalan yang ditemui langsung di masyarakat. Program tersebut mempertemukan isu lingkungan, pemberdayaan masyarakat, keterampilan, serta potensi ekonomi lokal dalam satu kegiatan.
Mahasiswa terlibat dalam merancang program, mengidentifikasi potensi dan persoalan di lingkungan masyarakat, berkomunikasi dengan warga, hingga melaksanakan praktik bersama. Proses tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Sementara bagi masyarakat, kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Pengolahan limbah minyak jelantah dan pemanfaatan bunga telang juga dapat menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Eco-Candle diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan. Pemanfaatan minyak jelantah dapat terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif pengelolaan limbah rumah tangga. Pada saat yang sama, bunga telang tetap dapat dikembangkan sebagai salah satu potensi unggulan Kampung Bunga Telang Bambanglipuro.
Program tersebut menunjukkan bahwa limbah rumah tangga tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak bernilai. Dengan pengetahuan dan kreativitas, limbah dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Di Dusun Sirat, minyak jelantah dan bunga telang dipertemukan dalam sebuah inovasi sederhana bernama Eco-Candle. Dari limbah menjadi manfaat, dari potensi lokal menjadi peluang.
Kontributor : Sela Saputri (mahasiswa PPG Calon Guru bidang PGSD)
Editor : Dikdo H.