Potongan karton warna-warni, miniatur lingkungan masyarakat, hingga diskusi antarkelompok menjadi pemandangan yang menghidupkan proses belajar. Hal ini tampak pada suasana kelas III SD Muhammadiyah Sokonandi 1, Yogyakarta, Rabu (29/04/2026). Eksplorasi ide dan kreativitas siswa mengubah ruang kelas bukan sekadar pembelajaran biasa.
Di tengah aktivitas itu, Mayda Kusumaningtyas, mahasiswa Program Profesi Guru (PPG) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), memandu siswa memahami materi IPAS Bab 6 tentang Interaksi Sosial melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Materi yang diangkat meliputi peran, tugas, tanggung jawab, norma dalam masyarakat, hingga berbagai jenis aturan dalam kehidupan sosial. Namun, yang membuat pembelajaran terasa berbeda adalah cara materi itu dihadirkan: tidak hanya dijelaskan, tetapi dialami langsung oleh siswa.
Mayda melaksanakan praktik pembelajaran terbimbing dalam kegiatan PPL Siklus 1 dengan mengusung pendekatan deep learning yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pendekatan ini mendorong siswa tidak sekadar menghafal konsep, tetapi memahami nilai di balik materi yang dipelajari.
Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Prof. Dr. Trianik Widyaningrum, M.Si. dan Guru Pamong Nurul Annisa Soleh Astuti, S.Pd., Mayda menerapkan model Project Based Learning (PjBL). Model tersebut dipilih untuk mendorong partisipasi aktif sekaligus mengembangkan kreativitas siswa.

Pembelajaran diawali dengan penggunaan berbagai alat peraga edukatif (APE), tayangan video, serta media PowerPoint yang membuat perhatian siswa langsung terarah pada materi. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembelajaran.
Salah satu media yang menarik perhatian siswa adalah PETATANG (Peran, Tugas, dan Tanggung Jawab) serta “Kantong Aturan”. Melalui alat peraga itu, siswa diajak memahami bagaimana setiap individu memiliki tanggung jawab dan aturan yang harus dipatuhi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi siswa sekolah dasar, konsep norma dan tanggung jawab kerap terasa abstrak. Namun ketika dihadirkan dalam bentuk visual dan permainan edukatif, materi menjadi lebih mudah dipahami. Di sinilah kreativitas guru diuji: menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan dunia anak.
Setelah memahami konsep dasar, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sekaligus membuat proyek diorama norma masyarakat. Setiap kelompok merancang miniatur yang menggambarkan situasi kehidupan sosial, lengkap dengan aturan dan perilaku yang mencerminkan norma di lingkungan masyarakat.
Ada kelompok yang menggambarkan suasana sekolah tertib, ada pula yang membuat miniatur lingkungan rumah dan masyarakat. Dari proses itu, siswa belajar berdiskusi, berbagi tugas, menyampaikan pendapat, hingga menyelesaikan masalah bersama.
Pembelajaran semacam ini menunjukkan bahwa pendidikan dasar tidak cukup hanya menekankan aspek akademik. Sekolah juga menjadi ruang pembentukan karakter sosial anak: belajar menghargai orang lain, bekerja sama, dan memahami aturan hidup bermasyarakat.
Menariknya, suasana kompetitif yang muncul di kelas tetap berlangsung sehat. Ketika hasil diorama dipresentasikan di depan kelas, siswa tampil percaya diri menjelaskan makna karya mereka. Kelompok lain memberikan tanggapan dan apresiasi dengan antusias.
Interaksi semacam itu memperlihatkan bahwa pembelajaran aktif mampu membangun keberanian sekaligus rasa saling menghargai antar siswa. Kelas tidak lagi didominasi guru, melainkan menjadi ruang dialog dan kolaborasi.
Pada akhir pembelajaran, Mayda mengajak siswa melakukan refleksi bersama untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kegiatan ditutup dengan evaluasi guna mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi tentang peran, tugas, tanggung jawab, dan norma dalam kehidupan sehari-hari.
Praktik pembelajaran terbimbing ini menjadi gambaran bagaimana calon guru masa depan dituntut mampu menghadirkan pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Bukan hanya menciptakan kelas yang aktif, tetapi juga menanamkan nilai sosial yang akan membentuk karakter anak di masa depan.
Di tengah tantangan pendidikan yang terus berubah, pendekatan pembelajaran yang kreatif, humanis, dan menyenangkan tampaknya akan menjadi kebutuhan utama. Sebab, anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa dilibatkan, dihargai, dan menikmati prosesnya.
Kontributor : Mayda Kusumaningtyas, mahasiswa PPG Calon Guru bidang PGSD
Editor : Tim Publikasi PPG UAD