Yogyakarta — Sebanyak 284 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadapi pengujian inovasi dalam gelar karya 30 proyek kepemimpinan di Gedung A.R. Fachruddin, Kampus IV UAD, Rabu, 28 Oktober 2026. Di hadapan sepuluh guru besar dan akademisi, mahasiswa mempertanggungjawabkan gagasan, produk, serta dampak program yang telah mereka terapkan untuk memberdayakan masyarakat.
Gelar karya bertema Dari Ruang Kuliah ke Masyarakat ini merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) perkuliahan PPG Calon Guru semester kedua. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mengembangkan inovasi, menyelesaikan persoalan di masyarakat, dan menerapkan pengetahuan lintas disiplin. Didampingi dosen pengampu masing-masing, mereka mempresentasikan proses pelaksanaan program, manfaat produk, hingga dampaknya bagi masyarakat. Para penguji mengajukan pertanyaan serta memberikan masukan untuk memperkuat gagasan dan mengevaluasi keberlanjutan program.
Kegiatan ini turut menghadirkan Tri Hariyani, S.S., M.M., Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, yang mewakili Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengingatkan bahwa program pemberdayaan harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat agar pelaksanaannya tepat sasaran.
Evaluasi juga menjadi bagian penting untuk mengukur keberhasilan program dan menentukan langkah pengembangan selanjutnya. Dengan begitu, inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti pada penyelesaian tugas akademik, tetapi berpeluang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Salah satu inovasi karya mahasiswa ialah ECOBUT, pupuk organik cair (POC) berbahan dasar sabut kelapa yang dikembangkan kelompok E3 mahasiswa PPG Calon Guru bidang studi PGSD. Program ini menyasar masyarakat di kawasan pesisir Sanden, Kabupaten Bantul. Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM., salah satu penguji gelar karya, mengapresiasi keberanian mahasiswa kelompok E3 mengembangkan produk di luar bidang keilmuan utama mereka sebagai mahasiswa pendidikan.

Menurut Zahrul, inovasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa memanfaatkan pengetahuan lintas disiplin untuk menjawab persoalan di lingkungan masyarakat. Pengembangan ECOBUT juga membuka wawasan warga mengenai potensi sabut kelapa yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
“Di sela kepadatan kegiatan di PPG, mahasiswa masih berani mencoba berinovasi di bidang yang bukan keilmuannya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti upaya kelompok E3 dalam mengenalkan alternatif bahan pembuatan pupuk organik cair. Masyarakat, kata dia, perlu mengetahui bahwa pembuatan POC tidak harus selalu bergantung pada produk komersial seperti EM4.
“Sosialisasi kepada masyarakat agar tidak tergantung pada bahan EM4 sebagai bahan dalam pembuatan POC ECOBUT. Ternyata kita bisa membuat sendiri dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan air bekas cuci beras atau air leri,” kata Zahrul.
Inovasi ECOBUT menjadi contoh bagaimana mahasiswa mengolah potensi sumber daya lokal menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Lebih dari sekadar menghasilkan produk, mereka juga berupaya menyebarluaskan pengetahuan dan mendorong pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Inovasi lain datang dari kelompok A1 bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengembangkan optimalisasi tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi minuman kesehatan dengan fokus pada hipertensi.
Guru Besar FKIP UAD Prof. Dr. Trianik Widyaningrum, S.Si., M.Si., selaku dosen penguji, menggali proses lahirnya gagasan, alasan pemilihan program, hingga pelaksanaannya. Ia juga mempertanyakan keterkaitan proyek kepemimpinan dengan profesi yang kelak dijalani mahasiswa.
Dari jawaban mahasiswa, Trianik mengarahkan pembahasan pada konsep leadership dan peran calon guru dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut dia, proyek kepemimpinan semestinya tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa mengambil peran dan memberikan kontribusi di lingkungan sosial.
Gelar karya ini melibatkan sepuluh penguji dari kalangan guru besar dan akademisi UAD. Mereka adalah Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.I.; Prof. Dr. Trikinasih Handayani, M.Si.; Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, M.Pd.Si.; Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd.; Prof. Dr. Trianik Widyaningrum, M.Si.; Prof. Dr. Suparman, M.Si., DEA.; Prof. Dr. Sumaryati, M.Hum.; Prof. Dr. Rina Ratih Sri Sudaryani, M.Hum.; Prof. Dr. Rully Charitas Indra Prahmana, M.Pd.; serta Prof. Dr. Ir. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM.
Masukan para penguji menjadi bagian penting dalam penilaian. Mahasiswa tidak hanya dinilai berdasarkan produk yang dihasilkan, tetapi juga ditantang menjelaskan kekuatan gagasan, kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat, serta peluang keberlanjutan manfaatnya. Evaluasi tersebut membantu mahasiswa memperkuat argumentasi dan menyempurnakan program yang telah dilaksanakan. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan memiliki dasar pemikiran yang lebih kuat dan arah pengembangan yang lebih jelas.
Melalui proyek kepemimpinan, mahasiswa juga berlatih berkolaborasi, mengenali persoalan di luar lingkungan kampus, dan mengembangkan solusi berdasarkan potensi yang tersedia. Pengalaman tersebut memperluas wawasan sekaligus melatih keberanian mempelajari pengetahuan di luar bidang keilmuan utama. Bagi calon guru, kemampuan berinovasi dan memberdayakan masyarakat merupakan bekal penting untuk menghadapi dunia pendidikan. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi dan keterampilan mengajar, tetapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi, serta menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata.
Gelar karya ini memperlihatkan bahwa pendidikan profesi guru tidak berhenti pada penguasaan teori dan praktik pembelajaran. Melalui pengujian inovasi dan evaluasi akademik, mahasiswa PPG Calon Guru UAD berkesempatan mengasah kompetensi, memperkuat kepemimpinan, dan mengembangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.