AI, Etika, dan Masa Depan Manusia: Diskursus Kritis di Stadium Generale #11

Yogyakarta – Di tengah laju pesat perkembangan kecerdasan buatan, kampus kembali menjadi ruang refleksi kritis. Studium Generale #11 yang digelar pada Jumat (24/04/2026) menghadirkan diskursus mendalam tentang etika dan masa depan Artificial Intelligence (AI). Kegiatan hasil kolaborasi LPP dan LPSI ini tidak sekadar membahas teknologi, tetapi juga menimbang arah kemanusiaan di era digital.

Dua narasumber nasional dihadirkan untuk mengupas isu strategis ini, yakni Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, Q.N., S.Si., S.Kom dan Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D. Keduanya menyampaikan perspektif yang saling melengkapi: dari fondasi ilmiah hingga dimensi etik dan teologis AI.

Prof. Benny membuka paparan dengan menekankan bahwa AI telah menjadi bagian integral dalam riset modern. Dengan kepakaran di bidang computer science, artificial intelligence, deep learning, hingga quantum computing, ia memetakan peran AI dalam lima tahapan penting penelitian akademik: mulai dari pemahaman ilmiah, survei akademik, penemuan ilmiah, penulisan, hingga tinjauan sejawat.

“AI mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi penelitian secara terintegrasi, namun tetap harus berada dalam koridor etika,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa etika AI merupakan seperangkat prinsip yang mengatur bagaimana teknologi seharusnya beroperasi sesuai nilai kemanusiaan, seperti keadilan, transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan privasi. Menariknya, Prof. Benny membedakan antara “etika AI” sebagai landasan teoritis dan “AI etis” sebagai implementasi nyata dalam teknologi.

“Tanpa etika, pengembangan AI berisiko tidak terarah. Sebaliknya, tanpa implementasi etis, prinsip hanya akan menjadi dokumen tanpa dampak,” ujarnya.

Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, Q.N., S.Si., S.Kom memaparkan materi Etika dan Kebijakan AI, Penggunaan Gen-AI di PT

Sementara itu, Ismail Fahmi membawa audiens pada horizon yang lebih jauh: masa depan peradaban manusia bersama AI. Ia mengingatkan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan teknologi kritikal yang dampaknya dapat menyamai bahkan melampaui energi nuklir.

“Pembatas utama AI bukan pada teknologinya, tetapi pada nilai yang kita pegang,” ungkapnya.

Ia memaparkan tiga fase perkembangan AI global. Fase pertama, The Great Transition (2026–2029), ditandai dengan kemampuan AI menyamai manusia dalam tugas kognitif. Fase kedua, The Superintelligence Emergence (2030–2035), ketika AI melampaui kecerdasan manusia. Dan fase ketiga, The Era of Hybrid Humanity (2030–2045), yakni integrasi manusia dan teknologi yang melahirkan entitas hibrida.

Dalam setiap fase, Ismail menekankan pentingnya peran Muhammadiyah. Pada fase awal, Muhammadiyah diharapkan menjadi digital verifier atau pusat tabayyun digital untuk melawan hoaks. Memasuki fase superintelligence, peran bergeser menjadi moral anchor dan penghubung kemanusiaan. Sementara pada fase manusia hibrida, Muhammadiyah diposisikan sebagai guardian of fitrah, penjaga nilai-nilai kemanusiaan yang tak tergantikan oleh mesin.

Lebih jauh, ia mengaitkan etika AI dengan Fikih Informasi Muhammadiyah yang berlandaskan prinsip tauhid, tabayyun, dan la darara (tidak membahayakan). Prinsip ini diperkuat dengan kerangka Maqasid al-Syariah sebagai alat evaluasi pengembangan teknologi, mencakup perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

“AI adalah alat, bukan Tuhan. Tanggung jawab tetap berada di tangan manusia—yang merancang, menggunakan, dan mengawasinya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa etika bukan pelengkap, melainkan fondasi yang harus dibangun sejak awal desain teknologi, sejajar dengan aspek keamanan dan perlindungan data.

Menutup sesi, Ismail Fahmi menyampaikan pesan kuat kepada mahasiswa sebagai generasi penerus. “Kalian adalah pembuat kebijakan, peneliti, dan pemimpin masa depan. Sikap etis hari ini akan menentukan norma esok hari,” ujarnya.

Stadium Generale ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga menegaskan bahwa masa depan AI bukan semata soal kecanggihan teknologi. Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana manusia menjaga nilai, etika, dan kemanusiaannya di tengah revolusi digital yang tak terelakkan.

Materi dapat diunduh di bawah ini :
1. Materi1-Prof. Dr. rer. nat. Achmad Benny Mutiara, Q. N. S.Si., S.Kom.
2. Materi2-Ismail Fahmi, S.T., M.A., Ph.D.