280 Mahasiswa PPG UAD Jelajah Heritage Solo, Siapkan Diri Hadapi PPL 2

Solo — Sebanyak 280 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Tahap 1 Tahun 2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengikuti kegiatan etno eduwisata di kawasan Tawangmangu dan Kota Solo, Jawa Tengah, Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi ruang recharging sekaligus refreshing sebelum mahasiswa menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2.

Kegiatan dikemas dalam bentuk outbound dan kunjungan ke sejumlah destinasi heritage. Sebanyak 32 pendamping yang terdiri atas dosen dan tenaga kependidikan turut mendampingi mahasiswa dalam perjalanan tersebut.

Ketua Program Studi PPG UAD, Prof. Dr. Trikinasih Handayani, M.Si., mengatakan kegiatan tidak semata-mata ditujukan untuk rekreasi. Menurut dia, perjalanan ke berbagai situs sejarah menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan jejak peradaban dan kebudayaan.

“Ini menjadi momentum untuk recharging dan refreshing sebelum melaksanakan PPL 2,” kata Trikinasih dalam sambutannya pada kegiatan outbound di Tawangmangu Wonder Park.

Abdi dalem dari kalangan muda menjelaskan tentang Kadipaten Mangkunegara kepada mahasiswa Prodi PPG UAD

Setelah outbound, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pura Mangkunegaran. Kompleks tersebut merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran yang didirikan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa, yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegara I dan memerintah pada 1757–1795.

Raden Mas Said dikenal sebagai salah satu tokoh perlawanan terhadap VOC. Sejarah Mangkunegaran berkaitan erat dengan Perang Geger Pecinan pada 1740–1743. Setelah melalui perjuangan panjang dan gerilya, berdirinya Kadipaten Mangkunegaran berkaitan dengan Perjanjian Kalicacing di Salatiga yang mengakhiri konflik di wilayah Mataram dan mengakui kekuasaan Raden Mas Said sebagai Pangeran Adipati Mangkunegara.

Kunjungan mahasiswa PPG UAD juga menjadi momentum untuk melihat bagaimana warisan budaya beradaptasi dengan perubahan zaman. Di bawah kepemimpinan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X, Pura Mangkunegaran aktif melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian budaya, bahkan mengangkat abdi dalem dari kalangan muda.

Mahasiswa Prodi PPG UAD foto di Beranda Dalem (Pracimayasa) merupakan ruang keluarga Mangkunegaran

Generasi muda didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut merawat dan mencintai kebudayaan Jawa. Pura Mangkunegaran juga membuka ruang partisipasi bagi anak muda untuk menjadi bagian dari abdi dalem maupun penggerak kegiatan budaya.

Langkah tersebut membuat tradisi keraton tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan justru ditempatkan sebagai sesuatu yang dapat terus hidup, relevan, dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

Pura Mangkunegaran juga dikembangkan sebagai ruang publik yang terbuka dan ramah bagi berbagai kegiatan kreatif anak muda. Bagi mahasiswa calon guru, model pelestarian budaya semacam ini memberikan pelajaran penting bahwa menjaga warisan budaya membutuhkan keterlibatan lintas generasi.

Masa lalu, dalam konteks tersebut, tidak hanya dipelajari sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan.

Dari Pura Mangkunegaran, rombongan menuju Rasamadu Heritage. Destinasi wisata sejarah dan budaya itu berada di bekas Pabrik Gula Gembongan atau Suikerfabriek Gembongan pada era kolonial Belanda di Solo.

Jejak sejarah Rasamadu juga tidak dapat dilepaskan dari peran Pura Mangkunegaran dalam perkembangan industri gula di wilayah Karisidenan Surakarta. Pada masa kepemimpinan KGPAA Mangkunegara VIII, Pabrik Gula Rasamadu Gembongan menjadi bagian dari perkembangan industri tersebut sebelum akhirnya berakhir pada 1963.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian melakukan nasionalisasi terhadap pabrik tersebut. Pengelolaan dan asetnya dialihkan kepada PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Bekas kawasan pabrik gula itu selanjutnya dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah.

Sekretaris Prodi PPG Dr. Agus Supriyanto, M.Pd., mengatakan pengalaman menyusuri situs-situs sejarah diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran mahasiswa tentang kejayaan peradaban dan kebudayaan masa lalu. Pengetahuan tersebut, kata dia, penting dibawa ke ruang pendidikan karena guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter generasi penerus.

“Mengunjungi tempat-tempat heritage mengingatkan kita pada masa kejayaan di masa lalu, tentang kemajuan peradaban dan budaya,” ujarnya.

Ia berharap semangat membangun peradaban dapat tumbuh kembali melalui para calon guru profesional. Mereka diharapkan mampu membawa nilai-nilai kemajuan tersebut ke sekolah dan masyarakat.

“Semoga di masa depan kejayaan ini dapat tumbuh dan berkembang kembali melalui tangan dingin calon guru profesional. Membawa peradaban bangsa Indonesia menjadi lebih beradab dan berkemajuan,” kata dia.

Bagi mahasiswa PPG UAD, perjalanan tersebut menjadi jeda sebelum kembali menghadapi tuntutan akademik dan praktik di sekolah. Dari Tawangmangu hingga Solo, mereka tidak hanya memperoleh pengalaman rekreatif, tetapi juga diajak membaca hubungan antara sejarah, budaya, pendidikan, dan masa depan bangsa.

Agus menilai calon guru memiliki posisi strategis dalam mewujudkan cita-cita Generasi Emas Indonesia. “Cita-cita Generasi Emas Indonesia dapat diwujudkan melalui calon guru profesional ini,” ujarnya.