Stop Gawai pada Anak! Pesan Penting Parenting TK Bina Insani

Edukasi pola pengasuhan anak di era digital kembali menjadi sorotan. TK Bina Insani Kulon Progo menggelar kegiatan parenting bertajuk “Mendidik Anak tanpa Gawai” pada Kamis (2/4/2026) pagi.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–10.00 WIB ini menghadirkan narasumber Sekretaris Program studi Pendidikan Profesi Guru Universitas Ahmad Dahlan Dr. Agus Supriyanto, M.Pd . Acara diikuti Kepala Sekolah Sri Rohmani, para guru, serta 10 orang tua bersama anak-anak mereka.

Dalam pemaparannya, Agus menekankan pentingnya pembatasan penggunaan gawai pada anak usia dini. Menurutnya, paparan layar yang berlebihan dapat memengaruhi perkembangan sosial, emosional, hingga kemampuan regulasi diri anak.

“Anak-anak perlu ruang untuk bermain aktif, berinteraksi langsung, dan mengembangkan kreativitas tanpa ketergantungan pada layar,” ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan gawai di era digital memang tidak bisa dihindari. Namun, bagi anak usia PAUD dan TK, diperlukan pengawasan serta pengaturan yang ketat dari orang tua agar tidak berdampak negatif pada kesehatan mental.

Agus juga mendorong penerapan conscious parenting atau pola asuh sadar. Orang tua, kata dia, dapat menyediakan alternatif aktivitas bermain edukatif, membangun komunikasi hangat dalam keluarga, serta menjadi teladan dalam penggunaan gawai.

Kegiatan berlangsung interaktif. Para orang tua aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai tantangan mendidik anak di tengah derasnya arus digitalisasi.

Kepala TK Bina Insani, Sri Rohmani, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap edukasi serupa dapat terus dilakukan guna meningkatkan kesadaran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Sinergi antara sekolah dan orang tua sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan mendukung perkembangan anak tanpa ketergantungan pada gawai,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran orang tua semakin meningkat dalam mengelola penggunaan gawai, sehingga anak dapat tumbuh secara optimal baik secara mental, sosial, maupun emosional.