Yogyakarta — Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) membekali mahasiswa calon guru dengan karakter, jiwa nasionalisme, dan keterampilan kepramukaan melalui pelatihan yang berlangsung di Kampoeng Mahoni, Tanen, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Sabtu–Ahad, 17–18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi peserta didik.
Pelatihan yang dimulai dengan berkumpul di Kampus 4 UAD pukul 06.00 WIB menghadirkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepramukaan Tingkat Daerah (Pusdiklatda) DIY sebagai mitra pembinaan. Sejumlah unsur pengelola PPG UAD turut hadir, yakni Sekretaris Prodi PPG Dr. Agus Supriyanto, M.Pd., Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, M.Pd.Si., serta dosen bidang akademik PPKn Mahmuda Ma’arif, M.Pd., dan staf Prodi PPG.
Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, M.Pd.Si yang mewakili Kaprodi PPG UAD menekankan pentingnya mahasiswa mengikuti kegiatan kepramukaan dengan serius. Menurut dia, bimbingan dari Kwarda DIY diharapkan mampu membentuk calon guru yang berkarakter sekaligus memperkuat rasa nasionalisme.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mampu mengelola diri dengan baik sehingga dapat menjalankan aktivitas dan tanggung jawab secara optimal pada masa mendatang.

Kepala Pusdiklatda DIY, Dr. Sugiyanto, S.Sos., M.M., mengatakan kepramukaan memiliki keterkaitan erat dengan dunia pendidikan. Ia mengingatkan bahwa guru dalam ungkapan Jawa dikenal dengan prinsip digugu lan ditiru, yakni sosok yang dipercaya dan diteladani.
“Pramuka menjadi salah satu bagian dari pendidikan,” ujarnya.

Menurut Sugiyanto, pendidikan kepramukaan memiliki standar nasional dan internasional. Karena itu, calon guru perlu memahami pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai kepramukaan yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional.
Ia juga menyinggung pentingnya kedisiplinan dalam penggunaan seragam Pramuka. Jika selama pelatihan peserta diperbolehkan meminjam seragam, ketika kelak menjalankan tugas sebagai guru, penggunaannya harus mengikuti ketentuan kepramukaan yang berlaku.
Sugiyanto menambahkan, kepramukaan di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kekhasan sebagai Pramuka Istimewa. Para calon guru diharapkan mampu mengambil peran dalam mengembangkan kegiatan kepramukaan secara kreatif dan memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan karakter di sekolah. Untuk memperoleh hasil optimal, ia mengingatkan peserta agar hadir secara utuh, baik secara fisik maupun kesiapan mental, selama mengikuti pelatihan.
“Yang muda harus berani dan kreatif,” pesannya kepada mahasiswa.
Ia juga mendorong peserta meningkatkan kualitas diskusi agar kegiatan kepramukaan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi menghasilkan gagasan dan praktik yang lebih baik pada masa mendatang.
Upacara pembukaan pelatihan ditandai dengan penancapan kapak oleh Kepala Pusdiklatda DIY, dilanjutkan penyematan tanda peserta. Prosesi kemudian berlanjut dengan penyerahan bendera Pramuka kepada tim pelatih sebagai tanda dimulainya rangkaian pelatihan.
Melalui kegiatan ini, Prodi PPG UAD berharap mahasiswa memiliki bekal untuk mengintegrasikan nilai-nilai kepramukaan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, calon guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, nasionalisme, dan kreativitas kepada generasi muda.