Dari Api Unggun ke Sekolah, PPG UAD Tanamkan Jiwa Pemimpin

Yogyakarta — Dari permainan kepramukaan hingga filosofi api unggun, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ditempa untuk menjadi calon guru yang mampu memimpin, membangun kerja sama, dan menanamkan karakter kepada peserta didik. Bekal tersebut diperoleh melalui Educamp Kemah Pramuka Calon Guru Inspiratif yang ditutup pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Keuangan, Kehartabendaan, dan Administrasi Umum (KKAU) FKIP UAD, Dr. Ani Susanti, M.Pd.BI., menutup kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Ani menyampaikan terima kasih kepada Tim Pelatih Pembina Pramuka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) DIY yang telah membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan kepramukaan.

Ani berharap mahasiswa tidak hanya memahami materi selama perkemahan, tetapi juga menerapkan nilai-nilai kepramukaan ketika Kembali ke kampus dan saatnya nanti menjadi guru dapat menjalankan tugas sebagai pembina Pramuka di sekolah.

Wakil Dekan SDM dan KKAU Dr. Ani Susanti, M.Pd. BI menutup kegiatan Educamp Kemah Pramuka Calon Guru Inspiratif, Minggu 18 Oktober 2026 di Kampung Mahoni, Pakem (PPG UAD)

Salah satu pelatih Pembina Pramuka Pusdiklatda DIY, Wahyu Hastini, M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan kepramukaan golongan siaga dan penggalang. Materi tersebut menjadi bekal bagi calon guru untuk mengemas kegiatan Pramuka yang menarik sekaligus mendidik.

Pada sesi keterampilan siaga, mahasiswa mengikuti berbagai permainan, antara lain puzzle, origami, KIM bumbu, menyusun menara, estafet bola kasti, blind ball, dan ular tangga budaya. Aktivitas tersebut melatih kreativitas, komunikasi, kekompakan, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara bersama-sama.

Menurut Wahyu, keterampilan itu diharapkan dapat diterapkan mahasiswa ketika terjun ke sekolah. Calon guru perlu mampu merancang permainan yang menyenangkan sekaligus menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik. Setelah permainan, peserta mengikuti sesi debrief, yakni evaluasi, refleksi, dan diskusi untuk meninjau pengalaman selama kegiatan. Melalui sesi ini, mahasiswa belajar memahami pentingnya kerja sama, saling mendukung, dan kepemimpinan dalam mencapai tujuan kelompok. Selain permainan, mahasiswa dikenalkan dengan Senam Pramuka Istimewa sebagai bagian dari penguatan keterampilan kepramukaan.

Pembekalan berlanjut pada keterampilan penerapan penggalang. Salah satu kegiatan yang diberikan ialah Raih Bendera Pusaka, yang memperkenalkan nilai patriotisme dan nasionalisme melalui aktivitas kelompok. Mahasiswa juga mempelajari keterampilan Letter A, menaksir, sandi, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), blind PBB, dan estafet tongkat. Beragam materi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk merancang kegiatan perkemahan penggalang di sekolah. Seorang pembina tidak cukup hanya menguasai teknik kepramukaan, tetapi juga harus mampu menyusun kegiatan secara menarik, terarah, dan sesuai standar. Melalui berbagai tantangan, mahasiswa berlatih membangun kekompakan, mengambil keputusan, serta saling mendukung. Nilai patriotisme dan nasionalisme juga diperkuat melalui pengalaman langsung selama kegiatan.

Puncak Educamp ditandai dengan kegiatan api unggun. Dalam pramuka, api unggun bukan sekadar nyala api dalam perkemahan, melainkan sarana memahami nilai persaudaraan dan kebersamaan dalam Gerakan Pramuka. Wahyu Hastini menjelaskan bahwa api unggun memiliki filosofi yang melampaui kegiatan seremonial. Api menjadi simbol semangat persaudaraan dan kebersamaan yang menyatukan peserta. Dalam kepramukaan, api unggun juga melambangkan perdamaian dan persatuan umat manusia di seluruh dunia. Nilai-nilai tersebut relevan dengan peran guru dalam membangun lingkungan belajar yang menghargai kebersamaan, kepedulian, dan perbedaan. Kegiatan api unggun turut dimeriahkan dengan pentas seni yang menampilkan kreativitas kelompok peserta. Melalui penampilan tersebut, mahasiswa berlatih mengekspresikan gagasan, membangun kepercayaan diri, dan bekerja sama dalam sebuah pertunjukan.

Rangkaian Educamp ditutup dengan pemberian apresiasi kepada kelompok peserta terbaik. Muhammad Zaelani, M.A.MS., salah satu pelatih Pembina Pramuka Pusdiklatda Kwarda, membacakan kelompok terbaik dalam tiga kategori, yakni kreativitas yel-yel, penerapan keterampilan siaga, dan penerapan keterampilan penggalang. Panitia juga memberikan apresiasi kepada satu kelompok terbaik dalam kategori pentas seni pada kegiatan api unggun. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kreativitas, kerja sama, dan kesungguhan mahasiswa selama mengikuti pelatihan.

Melalui Educamp Kemah Pramuka Calon Guru Inspiratif, PPG UAD berharap mahasiswa memiliki bekal kesamaptaan, kemandirian, patriotisme, dan nasionalisme. Lebih dari itu, kegiatan ini diarahkan untuk menyiapkan calon guru yang mampu menjadi pembina Pramuka yang andal, kreatif, dan berkarakter. Dari pengalaman di perkemahan, mahasiswa diharapkan membawa nilai-nilai kepemimpinan ke ruang kelas dan lingkungan sekolah, sekaligus menjadikan kegiatan kepramukaan sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda.