PPL di SDN Lempuyangan 1 : Mahasiswa Prodi PPG UAD Belajar Ngadi Busana Gagrak Ngayogyakarta

Yogyakarta – PPL di SDN Lempuyangan 1, Mahasiswa Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengikuti kegiatan edukatif. Kegiatan ini bertajuk Ngadi Busana Gagrak Ngayogyakarta dan diselenggarakan Komunitas Belajar SDN Lempuyangan 1, Kamis (16/04/2026).

Kegiatan ini tidak hanya diikuti mahasiswa PPL, tetapi juga guru serta tenaga kependidikan di lingkungan sekolah. Program tersebut merupakan agenda rutin sebagai wadah berbagi ilmu dan keterampilan antar anggota komunitas belajar.

Pelatihan dengan pemateri Endah Dwi Suryati, S.Sn., S.Pd., salah satu guru SDN lempuyangan 1. Endah memberikan praktik langsung pembuatan wiru jarik. sekaligus penjelasan mengenai nilai budaya yang terkandung dalam busana tradisional tersebut.

Kegiatan ini bertepatan dengan Kamis Pon, yang memiliki makna historis penting bagi masyarakat Yogyakarta. Hari tersebut berkaitan dengan peringatan berdirinya Kasultanan Hadiningrat pada 13 Maret 1755. Momentum ini menambah nilai filosofis dalam pelaksanaan kegiatan.

Di Yogyakarta, setiap Kamis Pon masyarakat dianjurkan mengenakan busana adat Gagrak Ngayogyakarta, seperti surjan lurik atau kebaya dengan bawahan sinjang atau jarik batik berwiru.

Mahasiswa PPL di SDN Lempuyangan 1 mengikuti pelatihan Ngadi Busana Gagrak Ngayogyakarta. (Dok. Tim PPL SDN Lempuyangan 1)

Acara diawali dengan pengenalan motif gagrak Ngayogyakarta serta perbedaannya dengan motif Solo. Peserta dikenalkan ciri khas warna dasar jarik, motif Yogyakarta didominasi warna putih, sedangkan motif Solo cenderung berwarna kuning atau cokelat muda. Berbagai motif lainnya juga diperkenalkan melalui media visual.

“Mengenal motif gagrak Ngayogyakarta penting untuk membedakannya dengan motif Solo, termasuk ciri khas warna dasar jarik yang didominasi putih, sedangkan motif Solo cenderung berwarna kuning atau cokelat muda,” ujar Endah.

Selanjutnya, peserta mengikuti sesi praktik membuat wiru jarik. Dalam praktik tersebut, peserta laki-laki membuat lipatan dengan ukuran tiga jari, sedangkan peserta perempuan menggunakan ukuran dua jari. Jumlah lipatan harus ganjil sesuai pakem busana tradisional Jawa. Arah lipatan pun berbeda, yakni ke kanan untuk laki-laki dan ke kiri untuk perempuan.

“Dalam praktiknya, peserta laki-laki membuat lipatan wiru dengan ukuran tiga jari, sedangkan peserta perempuan menggunakan ukuran dua jari. Jumlah lipatan harus ganjil sesuai pakem busana tradisional Jawa. Selain itu, arah lipatan ke kanan untuk laki-laki dan ke kiri untuk perempuan,”jelas Endah.

Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias. Selain meningkatkan keterampilan, pelatihan ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal.

Melalui Komunitas Belajar, SDN Lempuyangan 1 terus berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif, inovatif, serta berakar kuat pada nilai-nilai budaya.

Kontributor : Tim PPL SDN Lempuyangan 1
Editor : Tim Publikasi Prodi PPG UAD